Dian Sastrowardoyo menyampaikan pandangannya tentang karakter Sinta dalam film Yang Datang dan Yang Pergi saat konferensi pers, Jumat (30/10). (Foto: Istimewa) Dian Sastrowardoyo memerankan Sinta, sementara Roy Sungkono hadir sebagai Banawan. Keduanya terlibat dalam cerita yang berpusat pada sebuah guest house tua peninggalan keluarga Sinta. Bangunan itu bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang yang menyimpan jejak pertemuan, perpisahan, harapan, dan rahasia masa lalu.
Official trailer yang telah dirilis memperlihatkan kehidupan Sinta yang dikelilingi orang-orang dengan cerita masing-masing. Kehadiran Banawan, teman masa kecil yang kembali muncul ketika mereka dewasa, membuka kembali lembaran kenangan sekaligus menghadirkan kemungkinan cinta yang sempat tertinggal.
Namun, cinta dalam film ini tidak berjalan sesederhana pertemuan dua orang yang pernah saling mengenal. Sejumlah laki-laki yang datang dan pergi dari guest house tersebut membawa kisah cinta, harapan, bahkan pengkhianatan. Berbagai peristiwa itu perlahan membuka persoalan yang melibatkan Sinta dan keluarganya.
Cerita film ini bergerak melintasi tiga periode waktu, yakni 1965, 1999, dan 2026. Ketiganya menjadi kepingan cerita yang saling terhubung untuk mengungkap sejarah keluarga Sinta dan rahasia yang tersimpan di balik guest house tua tersebut.
Di balik balutan romantisme, Yang Datang dan Yang Pergi menawarkan cerita yang lebih dalam tentang warisan masa lalu, pilihan hidup, dan keberanian seorang perempuan menentukan masa depannya sendiri.
Penulis, produser, sekaligus sutradara Nurman Hakim mengatakan, film ini mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang, sekaligus bagaimana seseorang memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
“Melalui film Yang Datang dan Yang Pergi, kami ingin mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang, sekaligus bagaimana seorang perempuan menghadapi warisan tersebut untuk menentukan masa depannya. Setiap generasi tentunya mewarisi cerita dari generasi sebelumnya. Namun, tidak semua cerita harus berakhir dengan cara yang sama,” ujar Nurman dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/11).
Pandangan serupa disampaikan Nan Achnas, yang bersama Nurman menulis, memproduseri, dan menyutradarai film tersebut. Menurut Nan, setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang harus ditinggalkan dari masa lalu.
“Setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang ingin ditinggalkan. Bagi perempuan, pilihan tersebut juga berkaitan dengan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri,” ujar Nan.
Bagi Dian Sastrowardoyo, Sinta merupakan karakter yang menawarkan perspektif menarik tentang perempuan, warisan keluarga, dan kebebasan menentukan masa depan. Sinta bukan sekadar penerima cerita masa lalu, melainkan individu yang memiliki kendali atas keputusan hidupnya.
“Di film ini, karakter Sinta diperlihatkan sebagai perempuan yang bukan hanya sebagai penerima warisan masa lalu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pilihan terhadap masa depannya, dan menurut saya itu juga sangat merefleksikan apa yang dialami oleh banyak perempuan hingga saat ini,” kata Dian.
Ada cerita menarik lain di balik produksi film ini. Yang Datang dan Yang Pergi menjadi ajang reuni Dian Sastrowardoyo dengan dua sineas yang pernah mewarnai perjalanan karier perfilmannya.
Dian sebelumnya bekerja sama dengan Nurman Hakim dalam film 3 Doa 3 Cinta (2008). Sementara bersama Nan Achnas, ia pernah terlibat dalam Pasir Berbisik (2001), salah satu karya ikonik dalam sejarah perfilman Indonesia.
Kini, ketiganya kembali dipertemukan melalui sebuah cerita yang mengeksplorasi cinta, keluarga, dan perjalanan perempuan menghadapi masa lalu.
Film ini juga menghadirkan Dimas Aditya, David Ari Wibowo, dan Retno Soetarto. Dimas Aditya kembali bekerja sama dengan Nurman Hakim setelah sebelumnya terlibat dalam film Bid’ah Cinta (2017).
Bagi Roy Sungkono, film ini menjadi pengalaman tersendiri karena untuk pertama kalinya ia dipasangkan dengan Dian dalam sebuah kisah romantis. Ia memerankan Banawan, sosok dari masa kecil Sinta yang kembali hadir dalam kehidupannya saat dewasa.
Roy menggambarkan guest house tua keluarga Sinta sebagai ruang yang mempertemukan masa lalu dan masa kini. Di tempat itulah sejarah keluarga dan berbagai kenangan menjadi bagian dari perjalanan generasi berikutnya.
“Banawan adalah orang lama dari masa lalu Sinta, yang kembali datang di kehidupannya saat dewasa. Guest house tua keluarga Sinta di film ini akan menjadi ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu, yang memperlihatkan bagaimana sejarah keluarga bisa mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya,” ujar Roy.
Pada akhirnya, Yang Datang dan Yang Pergi bukan semata-mata tentang siapa yang datang, siapa yang pergi, atau kepada siapa cinta berlabuh. Film ini mengajak penonton menyelami pertanyaan yang lebih personal: sejauh mana masa lalu menentukan masa depan, dan kapan seseorang harus berani melepaskan cerita yang bukan lagi miliknya?
Sebab, dalam kehidupan, tidak semua yang datang harus menetap. Tidak semua yang pergi harus disesali. Dan tidak semua warisan masa lalu harus diteruskan.
Film Yang Datang dan Yang Pergi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026. (*)




No Comments