JANGAN DIBOCORKAN SAMPAI 22 JUNI
JAKARTA — Jakarta, kota metropolitan
terbesar di dunia, hari ini menyambut ribuan pemimpin global dalam pembukaan
Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026. Pertemuan penting ini
diyakini menjadi perhelatan simultan terbesar yang mempertemukan empat sektor
esensial dalam satu forum, yang digelar khusus untuk menghadirkan solusi
mendesak bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development
Goals (SDGs) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Diselenggarakan
di jantung salah satu lingkungan paling dinamis di dunia dan di garda depan
inovasi pembangunan berkelanjutan, kongres ini menjadi pusat utama bagi aksi
kolektif. Forum ini menghadirkan aliansi yang belum pernah ada sebelumnya,
terdiri dari 5.000 pemimpin dari kalangan akademisi, pemerintah, industri, dan
masyarakat sipil. Beranjak dari deklarasi iklim yang bersifat umum, acara tahun
ini menaruh fokus penuh pada rancangan aksi lintas sektor yang konkret dan
dapat diterapkan untuk mempercepat perubahan nyata di tingkat global.
Salah
satu momen utama dalam kongres ini adalah pengumuman resmi Times Higher
Education Sustainability Impact Ratings yang sangat dinantikan tahun ini. Pada
saat yang sama, pertemuan ini juga menandai peluncuran resmi Sustainability
Impact Network. Sebagai jaringan keanggotaan universitas terbesar di dunia yang
berfokus pada SDGs, inisiatif ini menyatukan lebih dari 1.600 universitas di
116 negara untuk menyediakan peta jalan penting berbasis data yang dibutuhkan
guna mengubah dialog mendesak menjadi dampak yang terukur.
Phil Baty, Kepala
Bidang Urusan Global Times Higher Education, mengatakan:
“Pengumuman
Sustainability Impact Ratings tahun ini dan peluncuran resmi Sustainability
Impact Network di Jakarta memiliki makna yang sangat besar. Keberlanjutan
sejati tidak dapat dicapai oleh satu sektor saja secara terpisah, dan tidak
dapat ditentukan semata-mata dari Global North. Dengan membawa kongres ini ke
Asia Tenggara, kawasan yang berada di garis depan kerentanan iklim sekaligus
inovasi berkelanjutan, kami menjembatani kesenjangan antara rencana
strategis dan implementasi nyata di lapangan.
Dengan
lebih dari 1.600 universitas di 116 negara yang bergabung dalam jaringan baru
ini, kami telah membentuk jaringan universitas terbesar di dunia yang
didedikasikan untuk SDGs PBB. Peluncuran jaringan ini di bawah atap yang sama
dengan para pembuat kebijakan, CEO global, dan LSM di kota metropolitan
terbesar dunia mengubah data bersama kita menjadi landasan nyata untuk perubahan. Dengan begitu,
solusi yang lahir di sini dapat memiliki bobot politik, akademik, dan ekonomi
yang dibutuhkan untuk membentuk Agenda Global 2030.”
Dengan
mempertemukan keempat sektor dalam satu tempat, kongres ini mencerminkan
kerangka yang komprehensif tersebut. Riset akademik dihubungkan langsung dengan
kebijakan pemerintah, inovasi bisnis, dan aksi masyarakat sipil agar solusi
yang dibahas dapat segera diperluas penerapannya.
Arah
strategis acara tahun ini turut diperkuat oleh kepemimpinan nasional dan
regional tingkat tinggi. Pidato utama dari Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala BAPPENAS Rachmat Pambudy, bersama Menteri Pendidikan Tinggi,
Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, akan memaparkan komitmen Indonesia dalam
menyelaraskan model pertumbuhan regional dengan tujuan internasional di bidang
iklim dan pendidikan.
Turut
hadir di panggung utama untuk menyoroti irisan penting antara pendidikan dan
pendanaan regional adalah filantropis besar Asia Tenggara sekaligus Pendiri dan
Chairman Sunway Group, Tan Sri Sir Jeffrey Cheah. Komitmennya yang besar
terhadap pendidikan berkualitas dan transformasi kelembagaan terus memberikan
kontribusi signifikan bagi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di
kawasan ini.
Untuk
mendorong integrasi lintas sektor ini, GSDC 2026 menempatkan rangkaian
subkonferensi tingkat tinggi sebagai bagian utama agenda. Rangkaian ini
dirancang untuk menjembatani strategi ekonomi dengan pelaksanaan praktis. Salah
satu fokus utamanya adalah penyelenggaraan perdana Asia-Pacific Sustainable
Business Summit, bersama Sustainable Trade and Economic Development Summit,
yang mempertemukan para pemimpin korporasi dan pakar kebijakan agar selaras
langsung dengan tujuan keberlanjutan global.
Dengan
menyadari bahwa penyaluran pembiayaan dan kemampuan manusia merupakan dua
penggerak utama kemajuan berkelanjutan, acara ini juga menghadirkan platform
Unlocking Capital, yang diselenggarakan bersama Eco-Business, untuk
memobilisasi pembiayaan hijau di negara-negara berkembang. Pada saat yang sama,
Skills Summit membahas transisi talenta global dengan memetakan jalur
pendidikan dan vokasi yang dibutuhkan untuk membangun tenaga kerja yang mampu
menjalankan ekonomi net-zero.
Selain
rangkaian utama tersebut, kongres ini juga resmi membuka One Health and
Well-being Zone 2026. Dengan menempatkan kesejahteraan personal dan ketahanan
manusia sebagai prasyarat penting bagi pencapaian SDGs PBB, zona ini menegaskan
bahwa kesehatan merupakan bagian mendasar dari strategi pembangunan global.
Area khusus ini dirancang untuk menghubungkan riset kesehatan mutakhir dengan
solusi kesejahteraan yang praktis di tengah padatnya agenda tingkat tinggi
kongres. Diselenggarakan oleh Hong Kong Baptist University (HKBU), ruang unik
ini menghadirkan pijat tradisional Tiongkok serta program Tai Chi, Baduanjin, dan mindfulness Karate,
bersama kampanye luar ruang harian “Walk to Live Well” yang dipimpin oleh
perwakilan senior universitas. Aktivasi ini menjadi pusat “Mindful Moments
Campaign” di kongres ini sekaligus menandai peringatan 70 tahun HKBU.
Profesor Alexander Ping-Kong WAI, Presiden dan Wakil
Rektor Hong Kong Baptist University, mengatakan:
“Keberlanjutan global yang sejati sangat bergantung pada kesehatan,
kebugaran, dan ketahanan struktural individu-individu yang mendorong perubahan
di lapangan. Saat kami memperingati hari jadi HKBU yang ketujuh puluh, kami
dengan bangga meluncurkan One Health and Well-being Zone untuk menunjukkan
bahwa kesejahteraan pribadi bukanlah isu sekunder, melainkan prasyarat penting
untuk mencapai SDGs PBB. Dengan menghadirkan riset kesehatan transdisipliner
dan strategi kesejahteraan praktis secara langsung ke dalam ekosistem pertemuan
ini, kami ingin membekali para pemimpin global dengan stamina fisik dan mental
yang dibutuhkan untuk mengejawantahkan wawasan berbasis data menjadi dampak
nyata yang berkelanjutan.”
Sorotan
utama Kongres 2026 meliputi:
Aliansi
Empat Sektor: Program
interaktif khusus yang mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin bisnis,
pemimpin pendidikan, dan advokat masyarakat sipil untuk berkolaborasi
mencapai target bersama melalui subkonferensi terarah, termasuk
Asia-Pacific Sustainable Business Summit, Sustainable Trade and Economic
Development Summit, Unlocking Capital bersama Eco-Business, dan Skills
Summit.Jaringan
SDGs Terbesar di Dunia:
Menampilkan kekuatan kolektif Sustainability Impact Network yang baru
dibentuk, yang menyatukan lebih dari 1.600 institusi berpikiran maju.Pengumuman
Sustainability Impact Ratings:
Pengungkapan eksklusif data global yang mengukur bagaimana institusi
pendidikan tinggi berkontribusi secara aktif terhadap ketujuh belas SDGs
PBB.Kepemimpinan
Regional Strategis:
Pidato utama dan diskusi panel tingkat tinggi yang menyoroti berbagai
kisah sukses global serta mendorong pembangunan berkelanjutan di berbagai
ekosistem di seluruh dunia.
Acara
ini berlangsung pada 22-25 Juni 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE),
Jakarta, dan diselenggarakan melalui kemitraan dengan Kementerian Pendidikan
Tinggi, Sains, dan Teknologi, BAPPENAS, dan Sinar Mas Land.
SELESAI
Artikel ini juga tayang di vritimes